AI dan Handphone di Ruang Kelas: Ancaman atau Peluang bagi Pendidikan di Kotawaringin Timur
![]() |
| Oleh: Rismarini Wijayanti, S.Pd, mahasiswa pasca sarjana Magister Pedagogi, Univesritas Muhammadiyah Malang. |
SEORANG siswa di
Sampit menyerahkan esai yang rapi, runtut, dan bahasanya nyaris tanpa cela.
Gurunya tersenyum, lalu mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Coba jelaskan
dengan kata-katamu sendiri.” Siswa itu terdiam. Adegan seperti ini mungkin
sudah akrab di banyak ruang guru. Pertanyaannya, apakah AI dan handphone harus
kita anggap biang keladi, atau justru kesempatan yang belum kita kelola dengan
baik?
Persoalannya
bukan lagi soal boleh atau tidak. Handphone sudah ada di saku hampir setiap
siswa, dan AI generatif seperti ChatGPT hanya berjarak satu ketukan jari. Di
satu sisi, guru khawatir perhatian siswa terpecah dan tugas dikerjakan mesin.
Di sisi lain, ada guru yang mulai memanfaatkan gawai untuk mencari referensi
dan menyusun bahan ajar. Dua kubu ini bergerak sendiri-sendiri, sementara
sekolah belum punya aturan main yang jelas.
Menurut
APJII, penetrasi internet Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 79,5 persen. Di
sisi lain, hasil PISA 2022 menempatkan kemampuan membaca, matematika, dan sains
siswa Indonesia di bawah rata-rata negara OECD. UNESCO dalam Laporan Pemantauan
Pendidikan Global 2023 mengingatkan bahwa teknologi baru bermanfaat bila
dipakai untuk mendukung tujuan belajar, bukan sekadar karena tersedia. Lembaga
yang sama juga menyarankan batas usia dan pendampingan dalam penggunaan AI
generatif oleh anak. Artinya, dunia sedang mencari keseimbangan yang sama
dengan yang kita cari di Kotawaringin Timur.
Menurut saya,
akar masalahnya bukan pada alat, melainkan pada kesiapan kita. Pertama, banyak
tugas sekolah masih berbentuk “kumpulkan jawaban”, sehingga mudah sekali
digantikan mesin. Kalau yang dinilai hanya hasil akhir, wajar siswa mencari
jalan pintas. Kedua, literasi digital guru dan siswa belum merata. Kotim punya
wilayah yang luas, dari kawasan kota Sampit hingga daerah pedalaman. Di satu
tempat sinyal lancar dan gawai berlimpah, di tempat lain sinyal naik-turun dan
perangkat terbatas. Jika kebijakan dibuat seragam tanpa melihat kenyataan ini,
jurang kesenjangan bisa makin lebar.
Dampaknya
nyata. Siswa yang terbiasa menyalin jawaban AI kehilangan kesempatan melatih
berpikir kritis, padahal itulah inti pendidikan. Sebaliknya, melarang total
juga bukan jawaban. Kita justru menyiapkan anak untuk dunia yang tidak pernah
mereka lihat, sementara di luar kelas mereka tetap memakainya tanpa bimbingan
siapa pun.
Lalu apa yang
bisa kita lakukan? Saya menawarkan empat langkah yang realistis.
Pertama, buat
kesepakatan kelas. Tidak perlu menunggu regulasi besar. Setiap sekolah bisa
menyusun aturan sederhana bersama siswa: kapan handphone boleh dipakai, kapan
disimpan, dan kapan AI boleh digunakan serta bagaimana mencantumkannya. Aturan
yang disusun bersama lebih mudah ditaati.
Kedua, ubah
cara menilai. Tugas yang menuntut proses, seperti presentasi lisan, diskusi,
catatan perkembangan, dan refleksi pribadi, jauh lebih sulit dikerjakan AI.
Guru bisa meminta siswa menjelaskan ulang hasil kerjanya, seperti pertanyaan
sederhana pada cerita di awal tadi.
Ketiga, latih
guru lebih dulu. Dinas Pendidikan bersama komunitas belajar seperti KKG dan
MGMP dapat menggelar pelatihan singkat dan praktis tentang AI, mulai dari cara
memakainya untuk menyusun soal, memberi umpan balik, hingga mengenali tulisan
hasil mesin. Guru yang percaya diri tidak akan takut pada teknologi.
Keempat,
sesuaikan dengan kondisi lapangan. Untuk sekolah dengan infrastruktur terbatas,
mulailah dari hal kecil: satu perangkat bersama untuk kegiatan kelompok, atau
materi yang diunduh dulu saat ada sinyal. Teknologi tidak harus canggih untuk
bermanfaat.
Pada
akhirnya, AI dan handphone adalah cermin. Di tangan yang siap, keduanya menjadi
pustaka dan pendamping belajar. Di tangan yang dibiarkan, keduanya menjadi
jalan pintas yang menumpulkan nalar. Mesin bisa menjawab hampir semua
pertanyaan, tetapi hanya guru yang bisa mengajarkan anak-anak kita bertanya
dengan benar. Di sanalah masa depan pendidikan Kotawaringin Timur ditentukan. (*)

Posting Komentar untuk "AI dan Handphone di Ruang Kelas: Ancaman atau Peluang bagi Pendidikan di Kotawaringin Timur"
Posting Komentar