Hoaks Mengetuk Pintu Sekolah
![]() |
| Oleh: Puput Nurayu Pratiwi, Mahasiswa Magistes Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang |
Literasi kritis tak
cukup menjadi seremoni tahunan; ia harus menjadi kebiasaan belajar di setiap
kelas.
PESAN
itu datang pada suatu malam, diteruskan dari grup wali murid:
“Pendaftaran Beasiswa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 telah
dibuka. Segera isi data diri melalui tautan berikut.” Logo kementerian
terpampang, bahasanya meyakinkan, tenggat waktunya mendesak. Tautan itu
ternyata hanya meminta nama lengkap dan nomor akun Telegram. Pada April 2026,
Pemerintah Kota Tangerang menegaskan informasi tersebut hoaks, dan
Kemendikdasmen menyatakan beasiswa tidak pernah dibagikan melalui tautan di
media sosial. Pola serupa berulang dalam berbagai rupa: lowongan guru Sekolah
Rakyat palsu, formulir “BLT anak sekolah”, hingga video rekayasa yang
seolah-olah menampilkan Presiden menjanjikan bantuan biaya sekolah. Hoaks
pendidikan tidak menyerang akal lebih dulu. Ia menyerang harapan, harapan orang
tua agar anaknya bisa terus bersekolah.
Sasaran
hoaks semacam ini sangat luas. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) 2026 mencatat 235,26 juta penduduk Indonesia telah terhubung
ke internet, dengan tingkat penetrasi 81,72 persen. Di kalangan Gen Z, generasi tempat sebagian besar pelajar
dan mahasiswa kita berada, penetrasinya mencapai 89,02 persen. Sepanjang 2024,
Kementerian Komunikasi dan Digital mengidentifikasi 1.923 konten hoaks, dan 890
di antaranya, hampir separuh, berkategori penipuan. Kategori agama dan
pendidikan memang hanya tercatat delapan konten. Namun, angka kecil itu patut
dibaca hati-hati, sebab tautan beasiswa palsu dan bantuan sekolah fiktif pada
dasarnya adalah penipuan yang meminjam nama dunia pendidikan.
Tantangannya pun makin canggih. Masyarakat Anti Fitnah
Indonesia (Mafindo) memetakan 1.593 hoaks dalam setahun pertama pemerintahan
saat ini, periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, dan mencatat peningkatan
signifikan hoaks berbasis kecerdasan artifisial, terutama deepfake yang
sulit dikenali orang awam. Nasihat lama “jangan mudah percaya judul” tidak lagi
memadai ketika wajah dan suara pejabat pun bisa dipalsukan.
Di sisi lain, bekal nalar kita belum sepenuhnya siap.
Hasil PISA 2025 yang diumumkan awal September lalu memang membawa kabar baik:
skor literasi membaca pelajar Indonesia naik enam poin, dari 359 pada 2022
menjadi 365. Kenaikan ini patut diapresiasi, tetapi skor itu masih terpaut
hampir seratus poin dari rerata negara OECD yang berada di angka 461. Indeks
Masyarakat Digital Indonesia 2025 juga baru mencapai 44,53 dari skala 100,
dengan pilar pemberdayaan sebagai yang terendah, yakni 34,42. Kita sudah cakap
terhubung, tetapi belum sepenuhnya cakap memilah.
Selama ini, respons terhadap hoaks lebih banyak bertumpu
pada penindakan: konten diturunkan, akun diblokir, pelaku dijerat hukum.
Langkah itu perlu, tetapi sifatnya reaktif. Hoaks baru selalu lahir lebih cepat
daripada hoaks lama dihapus. Akar persoalannya ada pada kemampuan warga,
termasuk murid, guru, dan orang tua, untuk menimbang informasi secara mandiri.
Di titik inilah sekolah seharusnya berperan, bukan sebagai penonton, melainkan
sebagai tempat latihan nalar.
Kabar
baiknya, nalar kritis dapat dilatih dan hasilnya terukur. Penelitian Wineburg
dan koleganya yang terbit di Journal of Educational Psychology pada 2022
melibatkan 499 siswa SMA di Amerika Serikat. Hanya dengan enam sesi pelajaran
berdurasi 50 menit di mata pelajaran wajib, siswa yang dilatih teknik “membaca
lateral”, yakni meninggalkan situs yang meragukan dan mengecek kebenarannya
dari sumber lain, menunjukkan peningkatan signifikan dalam menilai kredibilitas
konten daring dibandingkan kelompok pembanding. Studi Roozenbeek dan tim di
jurnal Science Advances (2022) juga menunjukkan bahwa video singkat yang
mengenalkan teknik manipulasi, seperti bahasa yang memancing emosi, dikotomi
palsu, dan mencari kambing hitam, meningkatkan kemampuan membedakan konten
tepercaya dan tidak tepercaya. Uji lapangannya melibatkan 22.632 pengguna
YouTube. Pelajarannya sederhana: kekebalan terhadap hoaks dapat dibangun lewat
intervensi singkat, murah, dan dapat diterapkan di kelas.
Karena itu, saya mengusulkan beberapa langkah. Pertama,
literasi kritis perlu dijadikan kebiasaan lintas mata pelajaran, bukan seminar
tahunan. Di kelas Bahasa Indonesia, misalnya, teks berita dan teks eksposisi
dapat dipelajari dengan membedah hoaks yang sedang beredar: siapa pembuatnya,
apa buktinya, dan bagaimana bahasanya menggiring emosi. Murid juga dapat
berlatih memeriksa alamat situs dan membandingkannya dengan kanal resmi,
seperti laman beasiswaunggulan.kemendikdasmen.go.id atau pip.dikdasmen.go.id.
Kedua, pelatihan guru harus bergeser dari sekadar penguasaan aplikasi menuju
pengajaran berpikir kritis dan teknik verifikasi. Ketiga, sekolah perlu menjadi
simpul klarifikasi bagi orang tua. Sebagian besar hoaks pendidikan beredar di
grup percakapan keluarga dan wali murid, sehingga kanal informasi resmi sekolah
yang cepat menjawab pertanyaan orang tua dapat memutus rantai penyebaran lebih
awal.
Ke-empat,
pemerataan tidak boleh dilupakan. Data APJII
yang sama menunjukkan penetrasi internet di Jawa mencapai 85,95 persen,
sementara di Maluku dan Papua baru 69,74 persen. Wilayah yang baru terhubung
justru paling rentan, karena akses datang lebih dulu daripada kebiasaan
memverifikasi. Program literasi digital semestinya tiba bersamaan dengan
sinyal, disertai bahan ajar yang kontekstual dan guru yang terlatih.
Hoaks tidak akan pernah benar-benar hilang dari ruang
digital kita. Namun, setiap murid yang terbiasa bertanya “siapa sumbernya?”
sebelum menekan tombol bagikan adalah satu mata rantai yang putus. Jika sekolah
mampu menumbuhkan kebiasaan itu, hoaks boleh saja terus mengetuk pintu sekolah,
tetapi ia tidak lagi mudah masuk ke kelas, ke rumah, dan ke kepala anak-anak
kita. (*)

Posting Komentar untuk "Hoaks Mengetuk Pintu Sekolah"
Posting Komentar