Ketika Asap Menembus Masa Depan Pendidikan
![]() |
| Oleh: Dedy Suryadi, S.Pd, mahasiswa pasca sarjana jurusan Magister Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang. |
KEBAKARAN lahan gambut bukan sekadar persoalan
lingkungan. Di Sampit dan wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, persoalan ini
juga menyentuh kehidupan sosial masyarakat, kesehatan, ekonomi, dan yang sering
kali luput dari perhatian, yaitu dunia pendidikan. Ketika lahan gambut terbakar
dan asap menyelimuti udara, yang terganggu bukan hanya aktivitas masyarakat di
luar rumah. Proses belajar anak-anak di sekolah pun ikut terdampak.
Pendidikan
membutuhkan lingkungan yang aman, sehat, dan kondusif. Guru membutuhkan ruang
yang nyaman untuk mengajar, sementara siswa membutuhkan kondisi fisik dan
psikologis yang memungkinkan mereka berkonsentrasi. Ketika kabut asap muncul
akibat kebakaran lahan gambut, kondisi ideal tersebut menjadi sulit diwujudkan.
Sekolah menghadapi dilema antara mempertahankan proses pembelajaran dan
memastikan keselamatan warga sekolah.
Dampak
paling nyata adalah terganggunya kegiatan belajar mengajar. Ketika kualitas
udara memburuk, aktivitas pembelajaran di luar ruangan tentu harus dikurangi
atau dihentikan. Bahkan, pembelajaran di dalam kelas pun dapat terganggu
apabila asap masuk ke lingkungan sekolah. Guru harus melakukan penyesuaian
terhadap strategi pembelajaran, sementara siswa harus belajar dalam kondisi
yang kurang nyaman.
Persoalan
ini menjadi lebih serius ketika asap berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Siswa yang seharusnya mengikuti pembelajaran secara rutin dapat mengalami
gangguan kehadiran. Sebagian mungkin mengalami keluhan kesehatan seperti batuk, iritasi mata,
atau gangguan pernapasan. Ketika kondisi kesehatan terganggu, kemampuan siswa
untuk berkonsentrasi dan mengikuti pembelajaran secara optimal juga dapat
menurun.
Di sinilah kita perlu melihat kebakaran lahan gambut
bukan hanya sebagai persoalan ekologis, tetapi sebagai persoalan pendidikan.
Setiap hari pembelajaran yang hilang memiliki konsekuensi. Materi yang
tertinggal harus dikejar, asesmen harus disesuaikan, dan guru harus mencari
cara agar tujuan pembelajaran tetap tercapai. Jika kondisi seperti ini terjadi
berulang setiap tahun, bukan tidak mungkin akan memengaruhi kualitas proses
pembelajaran secara keseluruhan.
Tantangan
lainnya adalah kesenjangan akses pembelajaran. Ketika kondisi udara
mengharuskan pembelajaran dilakukan dari rumah, tidak semua siswa memiliki
fasilitas yang sama. Ada siswa yang memiliki perangkat digital dan akses
internet yang baik, tetapi ada pula yang menghadapi keterbatasan perangkat,
jaringan, maupun dukungan belajar di rumah. Kondisi tersebut dapat membuat
dampak kabut asap dirasakan secara berbeda oleh setiap siswa.
Guru juga berada pada posisi yang tidak mudah. Di satu
sisi, guru memiliki tanggung jawab memastikan siswa tetap memperoleh hak
belajarnya. Di sisi lain, guru juga harus memperhatikan keselamatan dan
kesehatan siswa. Karena itu, sekolah membutuhkan kebijakan yang adaptif.
Pembelajaran tidak boleh semata-mata berorientasi pada penyelesaian materi,
tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kesehatan peserta
didik.
Namun, di balik persoalan tersebut terdapat peluang yang
dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan. Kebakaran lahan gambut seharusnya
menjadi bahan pembelajaran kontekstual bagi siswa. Apa yang mereka lihat dan
rasakan di lingkungan sekitar dapat dihubungkan dengan berbagai mata pelajaran.
Siswa dapat mempelajari karakteristik ekosistem gambut, penyebab kebakaran,
dampak asap terhadap kesehatan, perubahan kualitas udara, hingga dampak sosial
dan ekonomi yang ditimbulkan.
Pembelajaran seperti ini akan membuat pendidikan lebih
dekat dengan kehidupan nyata. Sekolah tidak hanya mengajarkan teori tentang
lingkungan, tetapi mengajak siswa memahami persoalan yang terjadi di daerahnya
sendiri. Dari sana dapat tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya
tugas pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.
Namun,
kesadaran saja tidak cukup. Sampit membutuhkan kebijakan yang lebih tegas dan
terukur. Pemerintah daerah perlu menempatkan perlindungan anak dan
keberlangsungan pendidikan sebagai bagian penting dalam kebijakan
penanggulangan kebakaran lahan dan kabut asap. Ketika kualitas udara mencapai
kondisi yang membahayakan, harus tersedia mekanisme yang jelas bagi sekolah:
kapan kegiatan luar ruangan dihentikan, kapan pembelajaran tatap muka
disesuaikan, bagaimana pembelajaran alternatif dilaksanakan, dan bagaimana hak
belajar siswa tetap dijamin.
Pemerintah
daerah bersama dinas pendidikan dan instansi terkait juga perlu membangun
protokol pendidikan saat terjadi kabut asap yang berlaku jelas bagi seluruh
satuan pendidikan. Protokol tersebut perlu disertai sistem informasi kualitas
udara yang mudah diakses sekolah dan orang tua, sehingga keputusan tidak
dilakukan berdasarkan perkiraan semata. Sekolah juga perlu didukung dengan
sarana perlindungan yang memadai serta akses layanan kesehatan bagi warga
sekolah yang terdampak.
Yang
tidak kalah penting, kebijakan pencegahan kebakaran harus diperkuat. Penanganan
tidak boleh hanya bergerak ketika api sudah membesar dan asap sudah menyebar.
Pencegahan, pengawasan kawasan rawan, edukasi masyarakat, penegakan aturan,
serta koordinasi lintas sektor harus dilakukan secara konsisten sebelum musim
kebakaran tiba.
Pemerintah,
sekolah, dunia usaha, masyarakat, dan orang tua perlu duduk bersama membangun
komitmen bahwa kebakaran lahan bukan kejadian rutin yang harus selalu diterima
sebagai bagian dari musim kemarau. Jika setiap tahun sekolah harus menyesuaikan
pembelajaran akibat kabut asap, maka kita perlu bertanya apakah langkah
pencegahan yang dilakukan sudah cukup efektif.
Sekolah
juga perlu membangun budaya kesiapsiagaan menghadapi bencana lingkungan.
Pemantauan kondisi udara, pengaturan kegiatan luar kelas, komunikasi dengan
orang tua, serta kesiapan alternatif pembelajaran perlu menjadi bagian dari
perencanaan sekolah. Kerja sama antara sekolah, pemerintah daerah, tenaga
kesehatan, orang tua, masyarakat, dan dunia usaha juga diperlukan agar
perlindungan terhadap siswa tidak menjadi tanggung jawab sekolah seorang diri.
Lebih
jauh, pendidikan memiliki peran strategis dalam mencegah persoalan ini
berulang. Anak-anak yang hari ini belajar tentang pentingnya menjaga lahan
gambut adalah generasi yang kelak akan mengambil keputusan di tengah
masyarakat. Mereka perlu memahami bahwa lahan gambut bukan sekadar lahan kosong
yang dapat dimanfaatkan tanpa batas. Ekosistem gambut memiliki fungsi ekologis
penting dan ketika rusak atau terbakar, dampaknya dapat dirasakan oleh banyak
orang.
Karena itu, penanganan kebakaran lahan gambut di Sampit
semestinya juga ditempatkan sebagai investasi terhadap masa depan pendidikan.
Menjaga kualitas udara berarti menjaga kesehatan siswa. Menjaga lingkungan
sekolah berarti menjaga ruang belajar. Dan mencegah kebakaran berarti menjaga
agar anak-anak tetap memperoleh kesempatan belajar secara aman dan
berkelanjutan.
Sudah saatnya kebijakan penanganan kebakaran lahan gambut
di Sampit memasukkan pendidikan sebagai salah satu prioritas perlindungan.
Jangan menunggu sekolah terganggu, siswa jatuh sakit, dan proses belajar
terhenti baru kita bergerak. Pencegahan harus dimulai sebelum api muncul, dan
perlindungan terhadap pendidikan harus disiapkan sebelum asap datang.
Pada akhirnya, asap yang menyelimuti Sampit seharusnya
menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan dan pendidikan tidak dapat
dipisahkan. Ketika lingkungan rusak, pendidikan ikut terdampak. Sebaliknya,
pendidikan yang baik dapat melahirkan generasi yang lebih sadar untuk menjaga
lingkungan.
Karena itu, menjaga lahan gambut hari ini bukan hanya
tentang menyelamatkan hutan dan lingkungan, tetapi juga tentang menyelamatkan
ruang belajar, kesehatan, dan masa depan anak-anak Sampit. Pemerintah perlu
bertindak lebih kuat, sekolah perlu lebih siap, masyarakat perlu lebih peduli,
dan semua pihak harus memiliki tanggung jawab yang sama: jangan biarkan asap
kebakaran hari ini menjadi kabut bagi masa depan pendidikan generasi berikutnya.
(*)

Posting Komentar untuk "Ketika Asap Menembus Masa Depan Pendidikan "
Posting Komentar